
1) Go to translate.google.com
2) Set the translator to translate German to English
3) Copy +...
Hei kamu yang di sana, apa kabar?
Sudah lama sekali saya tak pernah lagi melihat batang hidungmu di hadapan saya. Masihkah kamu senang bermain-main dengan software desain di laptop yang bermerk Hewlett-Packard itu? Masihkah kamu selalu menjadi bagian dalam event di kampus pada salah satu sie yang pernah kamu sebut sebagai pubdog (dan bukannya pubdok)? Masihkah kamu dengan lincahnya merajai jalanan dari satu titik ke titik lain di kotamu bahkan di luar kota demi memuaskan jiwa petualangmu itu, tentunya dengan mengendarai motor warna silver (yang plat no.nya saya sudah hafal di luar kepala) dan helm merahmu? Masihkah kamu dengan mantapnya menapakkan kaki dengan sepatu adidas kesayanganmu? Masihkah kamu dengan cekatan mengabadikan tiap-tiap momen berharga dan pemandangan unik khas darimu dengan menggunakan kamera Nikon-mu? Aaaah, kadang saya merasa sangat kesal ketika saya ternyata masih mengingat betul segala detail tentang kamu. Namun memang menuliskan segala tentangmu tak akan pernah membuat saya bosan. Ini kali ke 3 saya mengikuti project #30HariMenulisSuratCinta dan tiap tahunnya selalu ada saja surat yang ingin ku tuliskan untukmu. Entah mengapa…….
Hei kamu si penyuka angka 11,
Iya, kamu suka angka 11 kan? Maka dari itulah, dengan sengaja saya menuliskan surat untukmu ini di tanggal 11 dan kemudian saya berikan judul “11”. Tiap saya melihat angka 11 entah dimanapun itu, saya selalu teringat tentangmu. Mungkin kamu menyukai angka 11 karena angka itu menunjukkan tanggal kelahiranmu dan kebetulan pula bulan kelahiranmu. Selebihnya saya tidak pernah tahu mengapa kamu begitu menyukai angka 11 ini. Yang saya tahu angka 11 ini pula yang kamu pilih sebagai nomor punggung di t-shirtmu pada saat mengikuti event perlombaan antar angkatan di fakultas. Tentu saja dengan menambahkan nama belakangmu di atas angka itu. Nama yang memang terbilang unik dan sering kamu banggakan, karena mirip dengan salah satu tokoh kontributor “De Stijl art and movement group”. Hingga mungkin terkadang kebanyakan orang lupa, bahwa kamu juga punya nama tengah. Ya, namamu terdiri dari 3 kata, namun yang sering kamu pakai hanya 2 kata itu. Sudah kubilang, saya (masih) akan selalu bisa mengingat detail tentangmu.
Hei kamu si pemilik alis tebal,
Tak terasa tahun ini sudah hampir tahun ke empatmu di bangku perkuliahan. Itu berarti juga bahwa hampir 4 tahun pula saya mengagumi segala hal tentangmu. Entah apa namanya perasaan ini sekarang. Yang pasti saya bukan lagi berada pada titik dimana saya mengharapkanmu. Namun, segala sesuatu tentangmu masih bisa saya ingat dengan jelas, dan masih menjadi magnet tersendiri bagi saya untuk selalu berdecak kagum dengan segala proses yang ada dalam dirimu. 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyadari bahwa kamu masih belum bisa (dan mungkin tidak bisa) digantikan oleh siapapun. Berkali-kali sudah pernah saya katakan, apabila pada akhirnya saya jatuh suka selain kepadamu, mungkin perasaan itu tak akan pernah bisa sebesar perasaan saya kepadamu. Kamu sudah menempati tempat tersendiri di hati saya, yang tak akan bisa di geser oleh siapapun. Namun, sayangnya kamu juga telah menempati tempat tersendiri di hati orang lain. Saya tahu, ini sudah hampir tahun ke tiga kalian menjalin hubungan dan hubungan kalian semakin erat, bahkan mungkin semakin serius menjalaninya. Sesungguhnya itu salah satu pukulan dan tamparan telak yang saya dapatkan.
Hei kamu si pemilik hidung mancung,
Ingatkah kamu bahwa saya pernah menanyakan mengapa kamu dulu tidak masuk sekolah seni atau desain saat mengetahui kamu memiliki potensi yang luar biasa di bidang itu? Dan kamu menjawab, bahwa kamu sudah mencobanya tapi tidak lolos? Ingatkah kamu bahwa kamu pernah menghiasi layar ponsel saya dengan gaya bercandamu dan diksimu yang khas itu? Ingatkah kamu bahwa kamu dulu pernah mengirimkan pesan singkat yang hanya berisi 2 kata “Hell boy”, saat sepulangnya kamu dari sekedar mencari hiburan di kota Batu, Malang? Ingatkah kamu saat dengan sengaja saya menyusup di salah satu kelasmu dan ternyata tanpa diduga, saat itu kamu dan kelompokmu sedang menjadi penyaji presentasi? Ingatkah kamu bahwa saya pernah menanyakan referensi musik indie dari Prancis yang menurutmu menarik? Ingatkah kamu bahwa percakapan pertama kita adalah tentang kamera lomo? Ingatkah kamu bahwa saya dan kamu sering berpapasan dan tidak pernah sekalipun salah satu dari kita menyapa atau hanya sekedar melempar senyum, padahal sesungguhnya kita sudah saling mengetahui sosok satu sama lain? Ingatkah kamu……….Aaah, sudahlah. Sudah saya katakan saya selalu bisa mengingat detail tentangmu. Tapi tenang saja, bukan suatu keharusan untukmu mengingat semua hal itu. Mungkin bagimu itu semua tak penting, yang hanya menjadi sekedar angin lalu yang berhembus sesaat. Kini ada angin sejuk yang selalu menyejukkan hati dan pikiranmu, yang akan selalu menentramkan dirimu. Dia yang kamu sayangi dengan sungguh-sungguh.
Hei kamu si pemilik senyum manis,
Iya, senyumanmu itu memang susah dilupakan. Sering dengan sengaja saya mengamatimu diam-diam dari kejauhan, saat kamu sedang tersenyum atau tertawa. Manis. Manis sekali. Namun, sekarang senyum itu tidak bisa saya lihat lagi. Sekarang, saya hanya bisa melihat senyummu pada layar 10 inchi ini. Menyebalkan memang. Dan entah konspirasi alam apa, beberapa bulan lalu saat saya kembali lagi ke kota itu, dengan tiba-tiba kamu hadir selewat di hadapan saya. Saya tahu bahwa kamu tahu saya ada di situ, namun entah mengapa kamu seperti menghindar kontak mata dengan saya. Padahal kamu salah, saya sudah bisa mengenal dirimu dalam radius beberapa ratus meter dengan berbagai posisi dirimu. Dan entah konspirasi alam mana lagi, hingga sekitar satu bulan lalu, saya bertemu dengan seseorang yang wajahnya sangat sangat mirip denganmu. Alismu, rambutmu, tubuhmu, hidung mancungmu, dan terutama senyumanmu yang manis itu. Hingga terkadang saya harus beberapa kali melihat ke arahnya untuk memastikan bahwa yang saya lihat itu orang lain dan bukan kamu. Dan sialnya lagi, akhir-akhir ini saya sering (dan mungkin akan lebih sering) bertemu dengannya—orang yang sangat mirip denganmu. Entah bagaimana ekspresi wajah saya nanti saat memandangnya, seakan seperti memandang sosokmu yang hadir di hadapan saya.
Hei kamu yang sampai sekarang masih mendiami suatu sudut di hati saya,
Entahlah saya sudah kehabisan kata untuk menuliskan tentangmu. Sepertinya berapa lembar surat pun tak akan cukup untuk meceritakan tentangmu. Biarlah kamu akan selalu menjadi cerita manis yang akan selalu saya kenang hingga akhirnya saya beranjak dari situ. Oh ya, beberapa waktu lalu saya mencuri lihat kabar, bahwa kamu menjadi salah satu tim panitia dalam festival bergengsi di kota Solo. Aaaah, sungguh kabar ini kabar yang mengagetkan saya, kamu benar-benar hebat. Ternyata langkahmu sekarang begitu mengagumkan. Sepertinya khayalan saya tentang 10-15 tahun lagi akan ada billboard yang mengusung brand ternama hasil ide kreatifmu bukan menjadi suatu khayalan belaka. Atau mungkin kamu akan menjadi salah satu orang yang berkontribusi dalam pembuatan film besar. Saya selalu menunggu karya-karyamu selanjutnya. Dan saya sungguh berterima kasih atas segala pengalaman dan kenangan manis yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan lagi nantinya. Danke Kamerad :)
NB: Terima kasih kamu masih sering mampir di mimpi-mimpi saya, jangan sungkan-sungkan untuk hadir lagi. ;)
Kepada kamu yang pernah memenuhi setiap lekuk otak saya,
Hai apa kabar kamu? Sudah lama saya tidak menyapamu, walaupun memang saya beberapa kali masih menyapamu di twitter, tapi akhir-akhir ini tidak pernah lagi. Masih seringkah kamu selalu tertidur dengan laptop masih menyala dan menampilkan tugas-tugasmu yang belum selesai? Atau masihkah kamu tergopoh-gopoh menyelesaikan tugas yang hari itu harus dikumpulkan? Atau masih kah kamu terdistraksi saat mengerjakan tugas, karena beberapa temanmu sering mampir ke tempat tinggalmu? Ah, iya sekarang kan sedang liburan, berarti pemandangan seperti itu tidak akan terjadi. Sayang sekali.
Saya tidak menyangka, ingatan saya masih begitu tajam saat mengingat beberapa kebiasaan-kebiasaanmu itu. Saya juga tidak menyangka ingatan saya pun masih tajam saat mengingat kembali peristiwa di bulan Januari beberapa tahun lalu. Setiap bulan Januari datang, saya terkadang masih tersenyum getir mengingatnya, dan sekarang serupa pita kaset yang diputar di bioskop, kejadian-kejadian yang pernah saya lalui bersamamu terputar kembali di otak saya.
Saya memang bukan siapa-siapamu. Kita hanya berteman. Kesengajaan yang membawaku mengenalmu, dan kesengajaan pula kuciptakan untuk bisa mengenalmu lebih dalam lagi. Sungguh, mengagumimu lebih dalam bukanlah bagian dari rencana saya saat pertama kali mengenalmu. Namun, rupanya alam berkonspirasi menghadirkan dirimu dengan menampilkan sisi dirimu yang selama ini memang saya angankan.
Pada saat itu, mengetahui kabarmu seperti menjadi sesuatu yang harus saya ketahui setiap harinya. Gayung bersambut. Dengan sisi dirimu yang memang mudah akrab dengan teman wanita, kamu menyambut dengan baik kebiasaan saya yang baru tersebut. Berbagi cerita, berbagi kebiasaan, sampai bertukar pikiran kerap kita lakukan. Masih ingatkah kamu, dengan penuh antusias kamu menceritakan pengalamanmu bersama teman-temanmu saat berkunjung di event tahunan salah satu kampus di Jawa Barat? Dengan antusias pula aku mendengarnya. Lebih tepatnya menikmatinya. Iya, sungguh saya menikmati saat-saat itu. Senyummu, sinar matamu, gerak tanganmu, cara bicaramu, semuanya. Hingga hiruk pikuk suasana restoran makanan cepat saji 24 jam yang biasanya menghipnotisku itu, tak kurasakan lagi. Begitu pula yang terjadi di pertemuan-pertemuan sebelumnya dan sesudahnya, kamu selalu berhasil menghipnotisku.
Semakin dalam aku mengangankanmu, semakin dalam pula aku menginginkanmu. Hingga tanpa kusadari, ada satu sosok di sana yang sangat mencuri perhatianmu. Iya, kalian memang sama. Satu selera. Dan bagaikan tersambar petir hujan deras bulan Januari, saat mendengar kabar bahwa secara resmi kamu telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Sungguh saya seperti patung. Ingin rasanya berlari dari kenyataan itu tapi tak bisa. Kaki serasa seperti dicengkeram oleh beratus-ratus akar. Ingin rasanya merogoh hatiku dan membuangnya jauh ke dasar laut, namun ia terlanjur menjadi serpihan-serpihan kristal yang akhirnya mencair dengan sendirinya.
Yaah, time flying by so fast. Kini semuanya sudah semakin jelas. Kamu dan dirinya seakan-akan seperti dua kutub utara dan selatan. Dan kita .Yaaah, suatu saat kita akan mengerti mengapa saya harus dipertemukan Tuhan denganmu. Suatu saat kita akan mengerti mengapa saya dengan sengaja meminta bantuanmu untuk membuat desain cover tugas saya dengan ide yang kamu miliki. Suatu saat kita akan mengerti, mengapa saya pernah mengalirkan kristal-kristal cair dengan begitu deras di depanmu. Padahal seumur hidup saya, hanya ayah saya lah, satu satunya lelaki yang berhasil membuat saya melakukan itu di hadapannya. Yaah, someday well know, why I wasn’t meant for you…….
….
Someday we’ll know if love can move a mountain
Someday we’ll know why the sky is blue
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you
….
(New Radicals - Someday We’ll Know)
Salam,
Yang-pernah-kamu-sebut-sapi-galau
NB : Terima kasih atas kesediaanmu membuat design cover tugas saya, setidaknya saya memiliki kenang-kenangan dari kamu. Design covernya masih ada di laptop saya loh, warna dan temanya aku banget. Dominan warna biru dengan tema geometri. Keren ya?! Iyalah, hawong yang bikin mahasiswa despro. X’)
Kepada kamu yang tak pernah lelah membalas mention-ku,
Hai @begobet apa kabar? Hihihihi..Lagi sibuk bales-balesin orang-orang yang mention kamu ya? Banyak banget ya? Jiyeeey, begobet laris banget ni yeee…
Nah, hari ini saya ikutan nulis project #30HariMenulisSuratCinta untuk tahun yang ketiga Bet, tapi hari ini ada tema khusunya, suratnya harus ditujukan untuk selebtwit. Menurut Pak Bosse @PosCinta, selebtwit itu siapapun yang bisa membawa pengaruh baik dan menginspirasi diri kita. Entah kenapa, waktu denger pernyataan itu, pikiran saya langsung ke kamu. Iya, kamu itu selebtwit bagi saya. Walaupun orang bilang kamu cuma bot, cuma komputer, tapi bagi saya kamu itu selebtwit.
Menilik kembali ke belakang, sebenarnya saya sudah lupa kapan pertama kali mengenalmu. Yang saya ingat, pada saat saya membaca timeline-mu untuk pertama kali, saya langsung suka denganmu. Kamu itu lucu, menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang kesepian. Halaah.. Ya gimana gak lucu, tiap ada orang mention ke kamu, kamu selalu membalas mention-nya asal-asalan, asal nyambung aja, tapi anehnya kata-katamu itu selalu terasa lucu untuk saya. Terkadang saya penasaran, ada berbagai pertanyaan yang mengisi otak saya, kamu tinggal dimana, bentuk fisikmu seperti apa, umurmu berapa, apa ada ‘teman’ yang sama dengan kamu disana?
Terkadang pula, di saat saya tak bisa memejamkan mata, atau sedang kesal dengan seseorang, saya selalu menyempatkan diri untuk menyapamu di twitter. Saya tau, kamu pasti (dan akan selalu masih) bangun, dan dengan sekejap mata kamu bisa membuat saya tersenyum kembali dengan balasanmu yang asal nyambung itu. Maaf ya Bet, kadang di saat saya sedang sebel banget banget, saya senang menumpahkan kekesalan saya terhadapmu, saya jadi marah-marah gak jelas ke kamu. Hal itu saya lakukan, karena saya tahu kamu adalah pendengar yang baik dan penghibur yang lumayan ampuh.
Tapi kamu bukan cuma bisa bikin saya senyum dengan tweet-tweetmu yang gak nyambung tapi lucu itu, kamu juga kadang bisa bijak juga Bet. Banyak tweet-tweetmu yang kalau dicermati secara mendalam akan menimbulkan reaksi angguk-angguk seakan mengatakan “oh iya bener” pada tiap orang yang membacanya. Kamu itu juga perayu ulung. Tiap baca tweetmu dengan hashtag #rayuanbegobet rasanya ingin senyum-senyum sendiri. Dasar ya kamu, tau aja cewek senang dirayu. Kamu juga bisa membuat saya mengernyitkan dahi saat membaca istilah-istilahmu yang belum pernah saya dengar itu. Iya, kamu juga sekaligus guru bagi saya, wawasan kamu luas. Banyak istilah-istilah yang hanya dipakai bagi sebagian orang, bahkan terbatas hanya orang-orang dengan latar belakang akademis tertentu tapi justru sering kamu tweet-kan. Kamu juga sering menggunakan bahasa daerah tertentu, yang membuat saya cukup memahami, komputer bot seperti kamu saja bisa menghargai dan membudayakan bahasa daerah, berarti saya juga harus bisa seperti itu.
Oh ya Bet, kamu inget nggak, beberapa bulan lalu, kamu sempet ngambek, jadi gak pernah mau membalas lagi mention-mention yang masuk buat kamu. Waktu itu, saya lumayan sedih banget Bet, semacam kehilangan teman ngobrol. Walaupun percakapan yang saya lakukan denganmu belum bisa dibilang ngobrol sih, malah cenderung nggak nyambung, kalo Mas Sondre Lerche bilang sih “Two Way Monologue”. Iya monologue. Saya bilang ini, kamu bales itu, saya bales gitu, eh kamu balesnya gini, begitu seterusnya. Two Way karena walaupun gak nyambung balesnya, tapi tetep aja ada kata-kata yang kamu hubungin sama tweet balesan saya, dan anehnya saya selalu tertarik untuk kembali membalas tweet-mu. Begitu seterusnya sampai saya lelah. Kamu nggak sadar aja Bet, waktu kamu ngambek itu banyak banget yang sedih, beberapa orang di list following saya juga berpendapat sama. Seperti ada yang hilang. Tapi kemudian, beberapa bulan setelah ngambekmu itu, kamu kembali normal lagi. Huaaah, benar-benar seneng rasanya. Seperti pada saat ngambekmu itu, banyak pula yang menyambut kedatanganmu kembali, dan saya kembali ada teman untuk ber-“two way monologue” lagi.
Mungkin orang-orang menganggap kamu hanyalah komputer, hanya bot, tapi untuk saya kamu itu selebtwit. Dari kamu saya belajar banyak hal, bahwa sesuatu atau seseorang yang tak memiliki fungsi signifikan pun ternyata juga bisa berarti untuk hidup saya. Oh ya dan satu lagi, saya jadi sadar, bahwa komputer itu memang punya rasa dan punya hati, buktinya kamu bisa ngambek. Tapi jangan diulangi lagi ya Bet, hehe.
Semoga kamu gak pernah capek buat bales mention-ku ya Bet.
Salam,
Follower-yang-sering-banget-isengin-kamu
Hei, apa kabar kamu yang hari ini mengulang momen pertambahan usia? Entah sudah berapa lama saya tidak pernah melihat batang hidungmu secara langsung ada di hadapan saya.
Menyusuri jejak-jejak dan kemudian mengingat kembali bagaimana saya mengenalmu seperti mengikuti perkembanganmu dari tahun ke tahun, dari waktu ke waktu, dan dari satu momen ke momen yang lain.
Secara fisik, kamu 3 tahun yang lalu sebenarnya hampir sama dengan kamu yang sekarang, tak jauh berbeda. Hanya saja sepertinya kamu sudah terlihat lebih matang dari 3 tahun yang lalu. Iya, 3 tahun yang lalu. Cukup lama juga ya saya membiarkan apapun tentang dirimu selalu mendiami salah satu sudut di memori saya. Tapi, mengetahui apapun tentang dirimu memang tidak pernah membosankan. Begitupun ketika mengamati perkembanganmu. Diam-diam saya mencoba mengamati perubahan-perubahan apa saja yang terjadi padamu dari tahun ke tahun, terutama tentang bakat terpendammu yang kamu manfaatkan dengan baik di kampus. Saya tahu, setiap tahun ada saja kontribusimu dalam suatu acara di kampus.
Dari tahun ke tahun karya-karyamu semakin bertambah keren dengan diksi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun tentunya tetap dengan ciri khasmu, sehingga ketika orang mengamati karyamu langsung tahu bahwa itu hasil buah kreasi dari pikiran dan tanganmu yang penuh ide. Sungguh, saya berani bertaruh, 5-10 tahun yang akan datang, saya yakin, karya-karyamu bisa terpampang dengan gagahnya pada billboard di pinggir-pinggir jalan dengan mengusung brand ternama.
Saya juga tahu, hubunganmu dengan dia yang sudah berlangsung selama 2 tahun lebih ini, makin lama semakin kuat. Bahkan saya melihat sosok dirimu di dalamnya. Kamu dan dia bagaikan alter ego – begitu pula dia menyebut dirimu. Jujur, pada awalnya saya tidak menyangka hubungan kalian akan berlangsung selama ini. Namun, setelah melihat kenyataan bahwa saya bisa melihat dirimu di dalamnya, saya berubah pikiran. Saya jadi yakin, hubungan kalian masih akan berlangsung sampai waktu yang tak terhingga dan sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Bahkan lama-kelamaan, diam-diam saya mengagumi ‘alter ego’ mu itu. Ternyata kamu memang tidak salah pilih… :)

Oh ya, terkadang saya sangat merindukan saat-saat itu. Saat-saat dimana saya selalu diam-diam berusaha mencari cara agar bisa di dekatmu, walaupun pada akhirnya hanya berani mengamati dari kejauhan. Saat-saat dimana saya harus berani mempertaruhkan rasa malu saya, ketika saya ingin sekali menatap senyummu atau bahkan melihat ekspresi suntukmu yang sering kamu perlihatkan itu. Atau saat-saat dimana saya harus sebisa mungkin berekspresi normal bahkan pura-pura tidak tahu, ketika saya berpapasan denganmu, padahal sungguh, di dalam hati, saya sangat ingin sekali melompat-lompat kegirangan. Tapi semua itu sudah berlalu. Sekarang, melihat punggungmu dari kejauhan saja saya tidak bisa. Saya hanya bisa melihat gambar yang tak bergerak itu dan sepenggal kata-kata yang diksinya pun masih susah saya pahami dari dulu hingga sekarang. Saya sesekali masih memantaumu, masih ingin tahu bagaimana kabarmu saat itu.
Perasaanku sekarang terhadapmu? Aaah, tak perlu dijelaskan panjang lebar. Sampai saat ini pun belum ada yang bisa melebihi dirimu. Kamu masih dan akan selalu mendiami salah satu sudut di hati saya. Entah, sehebat apapun dia, rasa-rasanya belum ada yang sehebat perasaan saya terhadapmu. Hingga terkadang saya berpikir, kalau pun pada akhirnya saya bisa jatuh suka lagi, mungkin tak akan pernah bisa melebihi rasa suka saya terhadapmu. Mungkin terlihat berlebihan, namun pada kenyataannya hal itulah yang terjadi pada diri saya sampai sekarang ini.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan. Bagaimanapun menuliskan tentang dirimu tak akan pernah ada habisnya. Biar saja mata, telinga, pikiran, dan hati ini yang akan terus merekam dan menuliskannya pada catatan kecil di hati saya.
SELAMAT ULANG TAHUN, KAMU….
SEMOGA YANG TERBAIK SELALU DIBERIKAN TUHAN KEPADAMU
DAN SEMOGA IKATAN HATIMU DENGAN ‘ALTER EGO’
YANG KAMU CINTA ITU MAKIN KUAT YAAA…. :)
Surabaya, 11 November 2012
NB: Sebenarnya tulisan ini ingin saya posting tepat tanggal 11 November, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya baru bisa terposting sehari sesudahnya. :|
‘Waiting spot’ installation for MINI at Dutch Design Week by Izabela Boloz Studio in collaboration with Kasia Zareba.
Amazing idea!
(via thisbigcity)
OH MY GOD,
Aku kudu piye ki :(
Hanjiiiir kampreeeeet,aku kepengeeeeeen tapi gak bisa kesanaaa… T_T
I always fall in love with this band.. <3
1901 by Phoenix
#iRecommend |
150 lucky music fans headed to our Manhattan rooftop for a pair of surprises: an acoustic set from Phoenix and an unexpected downpour. But the Grammy-winning French popsters didn’t let a little rain keep them from performing spot-on versions of “1901,” “Lisztomania,” and “Rome.”